Pertumbuhan Populasi Lansia di Brasil dan Tantangannya di Pasar Kerja
Brasil sedang mengalami perubahan demografis yang signifikan. Baru-baru ini, IBGE merilis data yang menunjukkan bahwa tingkat ketenagakerjaan penduduk lansia mencapai level tertinggi sejak statistik mulai dikumpulkan pada 2012. Pada 2024, sekitar 24,4% orang berusia 60 tahun ke atas aktif di pasar kerja, yang berarti rata-rata satu dari empat lansia bekerja.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Keterlibatan Lansia dalam Pekerjaan
Peningkatan pekerjaan di kalangan lansia ini mencerminkan berbagai perubahan sosial dan ekonomi. Salah satu alasan utamanya adalah meningkatnya harapan hidup, sehingga orang hidup lebih lama dan karenanya mencari cara untuk menopang diri lebih lama. Selain itu, pola hidup keluarga juga berubah; banyak lansia kini kurang bergantung pada keluarga dan berupaya mencapai kemandirian finansial.
Faktor penting lainnya adalah tingginya tingkat informalitas di pasar kerja. Banyak lansia akhirnya menerima pekerjaan tanpa kontrak resmi, yang menjadi alternatif layak untuk menambah pendapatan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa reformasi Jaminan Sosial (Previdência Social) pada 2019 juga berdampak signifikan, sehingga banyak lansia merasa perlu tetap aktif bekerja.
Tingkat Pengangguran Terselubung dan Pengangguran
Data IBGE juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terselubung di kalangan lansia turun menjadi 13,2%, di bawah rata-rata 16,2% pada tahun-tahun sebelumnya. Adapun tingkat pengangguran terbuka mencapai 2,9%, salah satu yang terendah sejak 2021. Menarik dicatat bahwa tingkat ketenagakerjaan terendah terjadi pada 2020, ketika hanya 19,8% lansia yang bekerja, namun sejak itu angka tersebut terus meningkat.
Profil Lansia di Pasar Kerja
Pada 2024, penduduk lansia Brasil terdiri dari 34,2% laki-laki dan 16,7% perempuan, yang menunjukkan kesenjangan signifikan sebesar 17,4 poin persentase. Hampir separuh laki-laki berusia 60 hingga 69 tahun berada di pasar kerja, sedangkan hanya 26,2% perempuan pada kelompok usia tersebut yang bekerja. Ini menunjukkan bahwa meskipun partisipasi perempuan di pasar kerja meningkat, masih ada jalan panjang untuk mencapai kesetaraan.
Pekerjaan Formal dan Informal
Penting untuk dicatat bahwa sebagian besar lansia yang bekerja melakukannya sebagai pekerja mandiri atau pemberi kerja. Pada 2024, sekitar 51% lansia yang bekerja memiliki lebih dari satu pekerjaan. Namun, tingkat formalisasi di kelompok ini mengkhawatirkan, karena hanya 44,3% lansia yang memiliki pekerjaan formal, dibandingkan dengan 59,4%% rata-rata keseluruhan.
Informalitas menjangkau 55,7% lansia, dengan data yang mengkhawatirkan bagi mereka yang mengidentifikasi diri sebagai kulit hitam atau cokelat (pardo), di mana hanya 38,8% yang memiliki pekerjaan formal. Hal ini menggambarkan kesenjangan signifikan di pasar kerja yang masih perlu diatasi.
Pendapatan Lansia di Pasar Kerja
Dalam hal pendapatan, gambarannya juga mengungkap banyak hal. Pendapatan rata-rata yang biasa diterima orang berusia 60 tahun ke atas adalah R$ 3.561, yang berarti selisih 14,6% dibandingkan rata-rata seluruh pekerja. Namun, lansia perempuan memperoleh pendapatan jauh lebih rendah, dengan rata-rata R$ 2.718, hampir 33,2% lebih sedikit dibandingkan laki-laki yang berpenghasilan R$ 4.071.
Selain itu, ketimpangan rasial juga tercermin dalam pendapatan, di mana lansia kulit hitam atau cokelat (pardo) hanya memiliki pendapatan rata-rata R$ 2.403, yaitu 48,7% lebih rendah dibandingkan orang kulit putih yang berpenghasilan R$ 4.687.
Kesimpulan
Meningkatnya jumlah penduduk lansia di Brasil dan keterlibatan mereka di pasar kerja memunculkan isu penting tentang kesetaraan dan kondisi kerja. Seiring bertambahnya usia penduduk, diperlukan kebijakan publik yang tidak hanya menjamin inklusi, tetapi juga martabat dalam bekerja bagi kelompok masyarakat ini. Bagaimana menurut Anda tentang dampak penduduk lansia terhadap pasar kerja? Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar!